Makassar – Di tengah hiruk pikuk perkotaan, Griya Abhipraya Sombere hadir sebagai oase penerimaan bagi mereka yang pernah terjatuh dan ingin bangkit kembali. Nama “Abhipraya Sombere” sendiri merupakan perpaduan indah antara kata “Abhipraya” (harapan) dan “Sombere” (bahasa Makassar yang berarti ramah, hangat, dan mudah bergaul). Lebih dari sekadar bangunan fisik, Griya Abhipraya Sombere melambangkan kesempatan kedua dan harapan baru, Selasa, (20/5/2025).
Dr. H. Surianto, inisiator Griya Abhipraya Sombere, menjelaskan filosofi di balik tempat ini dengan sederhana namun bermakna: “Tidak ada yang terlalu rumit untuk diterima di sini.” Tanpa birokrasi berbelit, satu aturan sederhana diterapkan: berpakaian sopan. Suasana kekeluargaan dan keterbukaan menjadi ciri khas tempat ini.
Griya Abhipraya Sombere hadir sebagai tempat bergantung bagi mereka yang ditolak oleh lingkungan sekitar. Kantor sekretariat yang selalu terbuka 24 jam menjadi simbol nyata dari komitmen tersebut.
Namun, Griya Abhipraya Sombere tak hanya menjadi tempat bernaung. Tempat ini juga berfungsi sebagai ruang pemberdayaan dan pengembangan potensi. Contohnya, cabang Griya Abhipraya Sombere di Selayar kini mengirimkan produk olahan tuna seperti sambal tuna, abon ikan tuna, dan ikan kering ke Makassar untuk dipasarkan. Produk lain seperti makanan beku juga turut dijual, termasuk ayam beku hasil ternak mantan narapidana terorisme, sebagai bentuk dukungan keberlanjutan usaha mereka.
Griya Abhipraya Sombere bukan sekadar rumah singgah, melainkan tempat tumbuh, pulih, dan berkumpul. Ia adalah perwujudan nyata dari harapan (“Abhipraya”) yang ditawarkan dengan keramahan dan keterbukaan khas Makassar (“Sombere”). Tempat ini menjadi bukti bahwa kesempatan kedua dan penerimaan tanpa syarat masih ada di tengah masyarakat. (*)

