Makassar – Pergantian pimpinan di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Makassar dinilai menghambat optimalisasi kinerja. Meskipun pergantian pimpinan merupakan hal penting untuk penyegaran dan regenerasi, ketidaksinambungan program kerja akibat transisi kepemimpinan menjadi kendala utama Rabu, (7/5/2025).
Safri, mengungkapkan bahwa Bapas Kelas I Makassar, dengan peran pentingnya dalam reintegrasi sosial klien dan penegakan hukum, sangat bergantung pada kestabilan kepemimpinan. Serah terima jabatan (sertijab) yang idealnya meliputi transfer pengetahuan, program kerja, dan strategi, seringkali tidak berjalan optimal.
Pemimpin baru, dengan visi dan strategi sendiri, terkadang mengabaikan program-program sebelumnya, menyebabkan program harus dimulai dari awal atau tertunda. Kurangnya waktu adaptasi dan fokus pada penyesuaian internal semakin memperparah situasi. Struktur organisasi yang berbeda dari satuan kerja sebelumnya juga membutuhkan waktu adaptasi yang panjang bagi pejabat baru.
Akibatnya, efektivitas organisasi menurun, motivasi pegawai melemah, dan rasa memiliki terhadap program kerja menjadi kurang maksimal.
Untuk mengoptimalkan kinerja Bapas Kelas I Makassar, Safri menyarankan beberapa langkah. Diantaranya adalah perencanaan transisi kepemimpinan yang matang, komunikasi efektif terkait program kerja, dokumentasi yang baik atas seluruh program, dan sistem monitoring dan evaluasi yang terstandar.
Ia juga merekomendasikan kebijakan internal Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang mengatur batas minimal masa jabatan pimpinan, serta peningkatan kapasitas manajemen perubahan bagi pejabat struktural. Dengan sinergi, adaptabilitas, dan orientasi pada tujuan jangka panjang, Bapas Kelas I Makassar diharapkan dapat tetap optimal dalam menjalankan perannya. (*)

