Makassar – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Makassar telah berhasil mendirikan Griya Abhipraya Sombere, sebuah rumah singgah dan pusat pemberdayaan bagi mantan warga binaan pemasyarakatan (WBP) atau klien pemasyarakatan Senin, (28/4/2025).
Perjalanan pembentukan Griya Abhipraya, yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, tidaklah mudah dan penuh dinamika, seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Syukur dalam tulisannya.
Syukur mencatat bahwa rencana pembentukan Griya Abhipraya di Bapas Makassar telah digagas sejak tahun 2021, namun baru terealisasi pada Oktober 2024. Beberapa kendala utama yang dihadapi meliputi: kurangnya prioritas program di tahun-tahun sebelumnya, keterbatasan anggaran dalam DIPA Bapas Kelas I Makassar, dan kurangnya pemahaman dan kesamaan persepsi di internal Bapas Makassar terkait program ini.
Namun, di bawah kepemimpinan Kepala Bapas Kelas I Makassar yang baru, Surianto, pembentukan Griya Abhipraya Sombere akhirnya terwujud. Sejak pelantikannya pada akhir November 2024, Surianto langsung membentuk tim persiapan yang terdiri dari pejabat struktural dan Pembimbing Kemasyarakatan, termasuk Andi Marwan, Achmad Khairi, Abdul Khalid, Syamsir Rais, dan Nelliyanti.
Tim tersebut fokus pada dua program utama: pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian. Untuk mendukung program ini, Griya Abhipraya Sombere menjalin kerjasama dengan Ikatan Pembimbing Kemasyarakatan Indonesia (IPKEMINDO), koperasi, pemerintah daerah, dan klien pemasyarakatan.
Kendala pendanaan berhasil diatasi melalui pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari beberapa bank mitra Bapas Makassar. Lebih lanjut, Griya Abhipraya Sombere kini dilengkapi dengan Sarana Bimbingan Kemandirian (SBK) berupa food court yang diresmikan pada 18 Maret 2025 oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Selatan. SBK ini difungsikan untuk mendukung para klien Bapas Makassar yang memiliki usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ke depan, Griya Abhipraya Sombere berencana untuk memperluas pemasaran produk-produk klien melalui marketplace dan menjalin kerjasama dengan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Selayar untuk memasarkan produk-produk lokal seperti abon ikan, ikan kering, dan sambal khas Selayar. Kerjasama ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU).
Syukur berharap Griya Abhipraya dapat menjadi model bagi Bapas lainnya di Indonesia dan mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah untuk membantu klien pemasyarakatan berintegrasi kembali ke masyarakat dan mengembangkan potensi diri mereka.
“Keberhasilan Griya Abhipraya Sombere menunjukkan bahwa dengan komitmen dan kerjasama yang kuat, tantangan dalam pembinaan klien pemasyarakatan dapat diatasi,” Ucap Syukur.

