LUWU UTARA — Munculnya berbagai tudingan terkait dugaan pembiaran penggunaan telepon genggam di lingkungan Rutan Masamba kembali menuai tanggapan dari kalangan aktivis. Ketua Eksekutif Kota LMND Palopo, Egar, menilai isu yang terus digiring di sejumlah platform media cenderung menjadi opini liar yang dibangun tanpa melihat fakta secara objektif.
Menurut Egar, tudingan yang terus diulang terhadap pihak rutan terkesan miskin substansi dan hanya memutar persoalan lama yang pernah terjadi beberapa bulan lalu. Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut justru telah ditindaklanjuti melalui pengembangan kasus dari luar, bukan dibiarkan begitu saja.
“Kalau memang ada kejadian dan langsung dilakukan penindakan, itu artinya sistem pengawasan tetap berjalan. Pegawai juga manusia biasa, tidak luput dari kecolongan. Tapi jangan kemudian satu kejadian digoreng terus menerus seolah-olah menjadi budaya pembiaran,” ujar Egar dalam keterangannya.
Ia menyebut, tuduhan yang dilemparkan tanpa disertai fakta baru justru memperlihatkan adanya kecenderungan subjektivitas negatif terhadap institusi pemasyarakatan tersebut. Menurutnya, apabila persoalan serupa terus berulang dan ditemukan fakta-fakta baru, maka kritik itu masih memiliki dasar kuat. Namun sejauh ini, kata dia, isu yang dimainkan hanya berkutat pada perkara lama tanpa adanya kejadian serupa yang kembali terbukti.
“Sudah berbulan-bulan isu yang dimainkan hanya itu-itu saja. Tidak ada fakta baru, tidak ada pengungkapan baru, tetapi narasi terus dibangun seakan-akan terjadi pembiaran masif. Ini yang kami nilai sebagai opini liar yang sengaja dipelihara,” tegasnya.
Egar juga mengingatkan agar kritik terhadap lembaga negara tetap mengedepankan asas objektivitas dan tidak berubah menjadi serangan tendensius yang berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap kinerja petugas pemasyarakatan.
Ia menilai, di tengah berbagai keterbatasan fasilitas dan sumber daya, petugas rutan tetap menjalankan tugas pengawasan secara maksimal. Karena itu, publik diminta tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang belum tentu memiliki dasar fakta yang kuat.
“Jangan sampai semangat kontrol sosial berubah menjadi ruang pembunuhan karakter terhadap institusi. Kalau ada temuan baru silakan dibuka secara terang, tapi kalau hanya memainkan isu lama demi membangun persepsi negatif, itu patut dipertanyakan motifnya,” tutup Egar. (*)

