
Makassar – Di tengah tren pernikahan modern yang serba instan dan seragam, muncul sebuah upaya untuk melestarikan nilai-nilai adat pernikahan Bugis-Makassar.
Surya Ramadan, mahasiswa Politeknik Pariwisata Makassar, mengungkapkan pengalamannya menyaksikan keselarasan antara protokoler negara dan pelestarian adat dalam sebuah esai.
Ramadan mengawali kisahnya dengan menyaksikan langsung mekanisme protokoler negara dalam sebuah acara di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pada Jumat, 16 Mei 2025.
Kehadiran Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memberikan pemahaman mendalam tentang simbolisme dan tatanan dalam acara resmi. Ia menyadari bahwa protokoler negara bukan sekadar aturan, melainkan instrumen penting dalam menjaga martabat dan identitas bangsa.
Pengalaman tersebut kemudian beresonansi dengan pertemuannya bersama iPRO Management, sebuah wedding organizer di Makassar. iPRO, berbeda dengan tren umum, fokus pada pelestarian nilai-nilai adat Bugis-Makassar dalam pernikahan.
Pernikahan adat, bagi masyarakat Bugis-Makassar, bukan hanya perayaan dua insan, tetapi peristiwa sosial, budaya, dan spiritual yang sarat makna, terkait erat dengan kehormatan keluarga dan nilai-nilai luhur seperti siri’ na pacce.
Setiap detail pernikahan adat, dari prosesi mappacci (ritual pembersihan) hingga mapparola (pengarakkan calon mempelai pria), sarat simbolisme.
iPRO memastikan setiap elemen tetap berakar pada budaya, meskipun di tengah gemerlap dekorasi dan eksposur media sosial. Biaya jasa mereka yang relatif tinggi (Rp30-40 juta) mencerminkan komitmen mereka dalam melestarikan warisan budaya.
Ramadan menyoroti keprihatinan terhadap generasi muda yang lebih mementingkan aspek “meriah” atau “instagrammable” daripada substansi acara. Namun, bagi masyarakat Bugis-Makassar, penghormatan kepada leluhur dan adat istiadat jauh lebih penting.
iPRO, menurut Ramadan, menjadi contoh nyata individu yang secara konsisten menjaga nilai-nilai luhur, sekalipun tanpa popularitas di media sosial. Mereka adalah penjaga warisan budaya yang layak mendapat apresiasi lebih besar. Kisah ini menjadi pengingat penting tentang pelestarian budaya di tengah modernisasi. (*).

