BONE – Hamparan tanaman terong, cabai, dan kangkung yang dirawat dengan telaten di kawasan ketahanan pangan Lapas Kelas IIA Watampone akhirnya tiba pada masa panen. Kepala Lapas Kelas IIA Watampone, Rahnianto, didampingi jajaran pejabat dan staf, melaksanakan kegiatan panen raya tersebut pada Rabu, (3/6/2026), mulai pukul 08.30 WITA .
Kegiatan ini menjadi bukti nyata optimalisasi lahan kosong menjadi area produktif di lingkungan pemasyarakatan. Berbagai komoditas hortikultura yang berhasil dipanen merupakan hasil kerja langsung warga binaan yang mengikuti program pembinaan kemandirian berbasis pertanian .
Kepala Lapas Watampone, Rahnianto, menegaskan bahwa program ini tidak sekadar mengejar hasil panen, melainkan lebih menekankan pada proses pembinaan karakter dan keterampilan.
“Yang paling utama bukan banyaknya hasil panennya, melainkan bagaimana warga binaan belajar menerapkan kedisiplinan, rasa tanggung jawab, serta keterampilan bertani. Ini menjadi bekal nyata agar mereka bisa mandiri dan berdaya guna saat kembali bermasyarakat kelak,” ujar Rahnianto.
Ia menambahkan, program ini merupakan wujud dukungan langsung terhadap Asta Cita Presiden Republik Indonesia serta sejalan dengan program akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Pemerintah mendorong seluruh unit pemasyarakatan memaksimalkan sumber daya yang ada untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus memberdayakan warga binaan.
Selain menghasilkan sayuran segar yang bermanfaat bagi kebutuhan pangan di lapas, kegiatan ini menjadi sarana praktis pembelajaran lengkap. Warga binaan diajak terlibat mulai dari pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, hingga panen. Proses ini diharapkan mampu menumbuhkan etos kerja yang kuat dan kemandirian ekonomi sebagai persiapan masa depan.
Suasana berlangsung penuh semangat dan kebersamaan. Terong yang besar, cabai yang merona matang, dan kangkung yang tumbuh subur menjadi saksi kerja keras dan konsistensi yang diterapkan sepanjang masa penanaman.
Melalui program serupa, Lapas Watampone terus berkomitmen menghadirkan pola pembinaan yang produktif dan berdampak positif. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa warga binaan mampu menciptakan karya yang bernilai guna dan berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya. (*)

